Simposium Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merangkul ABG (Academic, Business, Government)



Dalam rangka Bulan K3 Nasional 2018 Balai Besar Pengembangan K3 Makassar melaksanakan kegiatan  Simposium Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam rangka Bulan K3 Nasional 2018 dengan tema kerja sama Academic, Business, Government (ABG) Triple Helix guna Peningkatan Budaya K3 dalam mendorong terbentuknya bangsa yang berkarakter pada tanggal 13 Februari 2018 di Hotel Dalton. Simposium ini dihadiri dengan berbagai kalangan mulai dari akademisi, pebinisnis serta pemerintahan turun andil untuk melaksanakan simposium ini. Dalam symposium ini Balai Besar Pengembangan K3 bekerja sama dengan Disnakertrans Provinsi Sulawesi Selatan, PT Vale Indonesia, Bank Sulselbar, PT Huadi Nickel Alloy Indonesia, LPTM, dan Universitas Hadanuddin.

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja itu ialah harga mati untuk sebuah perusahaan. Keselamatan kerja itu menyangkut nyawa manusia maka dari itu perlu diterapkan dengan semestinya. Dengan menerapkan budaya k3 dalam perusahaan pastinya akan berdampak pada keuntungan perusahaan tersebut. Menurut data estimasi ILO (pertahun) 2,3 juta orang meninggal terkait dengan pekerjaan, 360.000 meninggal karena kecelakaan kerja, 1,85 juta sakit akibat kerja dan kerugian USD 1,25T atau 169,75T. Akibat kelalaian kerja tersebut membuat perusahaan menjadi merugi. Seandainya dana untuk mengganti biaya ganti rugi itu dialokasikan untuk pembangunan yang lain pastinya akan lebih bermanfaat lagi.


Hal yang perlu dilakukan untuk mengurangi jumlah kecelakaan di tempat kerja ialah dengan menerapkan budaya K3 pada karyawan, para karyawan pasti akan menggunakan alat Pelindung diri dan mematuhi semua prosedur keselamatan bahkan tanpa harus ada yang mengawasi. Mereka sudah terbiasa dan yakin bahwa K3 adalah untuk keselamatan mereka sendiri. Dengan menerapkan Behavior Based Safety (BBS) merupakan upaya pencegahan kecelakaan secara proaktif yang berfokus pada perilaku berbahaya yang berpeluang menyebabkan terjadinya kecelakaan. Berdasarkan dari data statistik kecelakaan kerja bahwa lebih dari 85% kecelakaan disebabkan oleh unsafe action atau perilaku berbahaya dan dengan BBS / perilaku berbasis K3 ini unsafe action sebagai penyebab kecelakaan bisa dikurangi yang akhirnya tercapai nol kecelakaan kerja.


Namun budaya K3 tidak hanya perlu di ketahui oleh perusahaan, karyawan serta pemerintah saja. Perlu adanya perencanaan dalam dunia pendidikan agar menciptakan tenaga kerja siap pakai, dan meningkatkan partisipasi K3 dalam dunia kerja. Mengajarkan K3 sejak dini merupakan salah satu langkah awal untuk menciptakan mainset bahwa K3 sangatlah penting untuk di terapkan. Dalam acara simposium ini ada perwakilan Duta K3 yang dipilih dari SDN Mangkura 3, SDIT Al Biruni Makassar dan SDI Sandika Gowa yang langsung di berikan lencana penghargaan sebagai Duta K3 di usia dini.

Hasil dari symposium yang melibatkan akademisi, pebisnis serta pemerintah ini melahirkan banyak masukan-masukan positif yang di tamping dalam rekomendasi symposium. Adapun hasil rekomendasi sebagai berikut :

Kementrian ketenagakerjaan RI untuk :
  • Merevitalisasi sasaran pembinaan K3 dan tempat kerja ke arah penyiapan SDM
  • Mereformasi kebijakan dan strategi pembudayaan K3 nasional ke arah peningkatan peran dunia pendidikan
  • Mengoptimalkan peran tempat kerja melalui kebijakan private complain dengan orientasi K3 sebagai kebutuhan untuk menumbuhkan inisiatif tempat kerja

Kepada pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk :
  • Segera membentuk atau mengaktifkan kembali dewan K3 Provinsi Sulawesi Selatan
  • Segera menyusun roadmap penerapan K3 di Sulawesi selatan
  • Memberikan dukungan terhadap akselerasi penerapan konsep K3 pada usia dini



0 komentar